Dari pandangan biologis kita saat ini, satu spesies dianggap maju apabila ia memiliki kemampuan untuk bertahan dan mereproduksi. Secara intuitif, banyak dari kita yang mengenali logika tersebut, tetapi merasa bahwa seharusnya ada yang lebih dari sekadar cerita ini. Barangkali ini karena apa yang membedakan spesies kita dari yang lainnya di planet ini tidak hanya karena alasan biologis. Barangkali evolusi juga tidak. Manusia tidaklah unik dipandang dari kemampuannya untuk berkembang apabila dibiarkan telanjang di dalam hutan. Pada kenyataannya, ini akan sangat menyulitkan bagi kita. Salah satu hal yang memisahkan kita dari yang lainnya adalah jaringan teknologi kolektif kita; kita dapat membuat konsep dan mewujudkannya dengan SANGAT BESAR lebih dari spesies manapun. Banyak antropolog seperti Amber Case yang kini membuat argumen menyakinkan tentang manusia modern yang secara bertahap telah berubah menjadi cyborg selama beberapa generasi belakangan. Coba pikirkan. Kamu bergerak secara luas dengan mobil—bukan dengan kakimu. Kamu dihangatkan oleh perapian, bukan oleh kemampuan tubuhmu untuk mempertahankan keseimbangannya. Dan informasi yang dapat kamu ingat kembali datang dari komputer, paling tidak sebanyak yang datang dari ingatanmu sendiri.

Sebagai sebuah pernyataan kecil, evolusi cyborg ini telah membuat kita sepenuhnya saling bergantung dengan cara yang jarang terjadi pada spesies lainnya. Seperti tulisan populer Leonard Read dalam esainya di tahun 1958, “I, Pencil”/ “Saya, Pensil”, tidak ada satupun manusia di muka Bumi ini yang dapat membuat sebuah pensil dari nol. Orang yang merancang pensil tidak tahu bagaimana cara memproses bubur kayu atau grafit tambang, apalagi membuat peralatan yang dapat melakukan hal-hal tersebut. Ketika kita memperhitungkan benda-benda seperti mobil dan komputer, kita melihat adanya kebutuhan akan kerjasama lintas cabang ilmu yang sungguh-sungguh luar biasa. Kita sangatlah bergantung pada spesialisasi yang dimiliki oleh orang-orang di berbagai belahan planet ini—beberapa daripadanya bahkan pernah kita temui—untuk bertahan dan melangkah maju pada evolusi cyborg kita. Saya tercengang pada fakta bahwa pada saat ini apa yang saya anggap sebagai “kecerdasan saya” sebagian dibangun oleh orang yang tahu bagaimana cara mengoperasikan mesin pemotong untuk merubuhkan pohon dan menyediakan kertas bagi buku-buku yang telah saya baca. Secara singkat, kita tidak hanya berevolusi secara individu dalam generasi demi generasi. Kemampuan kita yang meningkat untuk bertahan dan mewariskan informasi genetik diperkuat hari demi hari oleh karya orang-orang yang ada di tiap negara di planet kita.

Selagi saya melihat organisme-super-seperti-cyber yang telah dibangun oleh spesies kita, saya juga menyadari bahwa ini tidak secara sederhana hanya dibangun oleh spesies kita. Jauh daripada itu. Siapa yang menyediakan bahan bakar untuk memberikan energi bagi otak manusia? Bukan kita, tetapi tanaman, binatang, dan jejamuran. Jadi tentu saja penghargaan atas terbentuknya-misalnya-kota New York tanpa diragukan juga adalah berkat mereka. Terlebih lagi, penghargaan ini tidak hanya karena mereka telah memberi makan kita, tetapi spesies-spesies ini telah menginspirasi kita. Ini termasuk tanaman yang indah, binatang yang megah, dan tanpa diragukan, psychotropic metabolites.

Comments

comments

Pages: Page 1, Page 2, Page 3