Mari kita tinjau kembali contoh kota New York. Dapatkah kita berpura-pura sejenak saja bahwa kopi tidak memainkan peranan penting pada pembangunan imperium tersebut? Orang yang menemukan elevator tentulah pantas mendapatkan penghargaan, tetapi begitu juga tanaman yang menemukan kafein. Apa yang kita pikir sebagai “kerajaan manusia”, pada kenyataannya adalah proyek kolaborasi dari hampir semua spesies di planet ini. Dinamika sosial kita secara luas dipengaruhi oleh bebijian yang difermentasi—dan karya seni serta filosofi dipengaruhi oleh para jejamuran.

Faktanya adalah evolusi bukanlah permainan individu. Memang tidak salah, tetapi pada saat bersamaan, ia juga adalah kerjasama tim. Selagi kita hidup pada hari ini, beberapa spesies adalah sekutu kita, mendampingi kita untuk terus mendorong kereta maju, ketika yang lainnya seakan ingin menghalangi kita. Mental penakluk menganjurkan agar kita untuk terus maju dan menghancurkan apapun yang menghalangi langkah kita. Saat ini, dengan ancaman adanya penurunan produksi minyak, “superbugs”, dan samudera yang sedang sekarat, hampir setiap negara sedang berada di tepi jurang revolusi, dan kita mulai melihat bahwa pendekatan yang kita lakukan selama ini tidaklah berjalan. Ini dapat berlangsung selama beberapa saat, tetapi jalan ini akan membawa kehancuran bagi kita juga kehidupan di sekitar kita. Mental pelindung kita mengatakan bahwa kita harus memperlambat laju dan bergerak ke arah lain saat ada hal yang menghalangi kita. Pastinya ini lebih tidak destruktif, tetapi mungkinkah ada pilihan ketiga yang lebih baik? Apakah kita dapat berteman dengan musuh kita? Dapatkah kita, sebagai gerakan evolusi, mengubah hubungan dengan planet kita dari parasitis menjadi simbiosis?

Kembali meminjam analogi kereta, akankah perjalanan kita lebih mudah apabila ada lebih banyak spesies yang bersama-sama menarik kereta, dibanding hanya kita sendirian saja?

Pada akhirnya, dengan segala perbincangan mengenai evolusi dan “kemajuan ke depan”, kita harus mengambil momen dan meninjau ulang pertanyaan awal tentang apa sebenarnya evolusi itu. Dengan setiap langkah ke depan kita lebih dapat mempengaruhi realita hidip kita—berkat adanya pertumbuhan pesat pada teknologi (atau hukum tarik menarik, apapun yang kamu lebih sukai), jangka waktu antara saat kita membuat konsep  dan kemampuan kita untuk mewujudkannya menjadi lebih singkat dari waktu ke waktu. orang-orang seperti Ray Kurzweil melihat tren ini dan mengatakan bahwa kita mendekati sebuah keistimewaan di mana kemampuan kita untuk menciptakan apapun yang dapat kita bayangkan sangatlah instan. Dengan kata lain, MAHA KUASA. Pada saat bersamaan, kita menjadi lebih kuat, akan tetapi, pemahaman kita juga bertumbuh secara eksponensial—tiap penemuan didasarkan dari penemuan sebelumnya. Walaupun tren ini lebih sulit untuk diukur, arahnya jelas. Kita semakin dekat menuju pemahaman mendalam tentang segalanya. Dengan kata lain, MAHA TAHU. Dan pada akhirnya, apabila aliran emosi masyarakat kita dapat dianggap sebagai sebuah indikasi, ada sebuah keinginan kuat untuk memperlakukan kehidupan dengan lebih hormat daripada sebelumnya. Walaupun orang-orang yang mengabaikan spesies lain juga lebih kuat dari sebelumnya, keinginan untuk hidup secara harmonis dengan planet ini tidaklah hilang. Pada kenyataannya, saya merasa ini menyebar seperti sebuah kebakaran. Apabila kita berani meramalkan kemungkinan dari tren ini, kita dipaksa untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa organisme-super ini dapat sungguh bergerak menuju MAHA BAIK.

Maha baik, maha tahu, dan maha kuasa: secara konvensional, inilah tiga kriteria yang mendefinisikan Tuhan.

Karena semua kesombongan kita, ada beberapa hal yang membuat manusia lebih tidak nyaman menerima dugaan keilahian ini. Akan tetapi, semua anak panah seakan menunjuk ke arah tersebut; kekuatan evolusi adalah peningkatan dari hewan menuju dewa—dari benda menjadi makhluk. Saat ini umat manusia seperti remaja aneh yang berada di di antara dua hal ini… tetapi menurut perkiraan saya, secara cepat bergerak menuju yang kedua.

Beberapa mungkin melihat ini dan merasakan sebuah alarm—bahwa kemanusiaan adalah kekuatan yang bertumbuh untuk melawan Tuhan, sebuah konglomerat jahat yang berusaha menggantikannya. Saya sama sekali tidak melihatnya seperti ini. Saya percaya bahwa maha baik bukanlah tanpa sengaja dianggap sebagai kriteria keilahian. Jika kamu tidak dapat berhubungan dengan segala sesuatu di sekelilingmu secara simbiosis, maka pengetahuan dan kekuatanmu pada akhirnya adalah sebuah kerugian. Dengan kata lain, apabila kita tidak berlaku baik, kita akan menghancurkan diri kita sendiri. Ini adalah proses yang cukup membatasi diri sendiri. Karenanya, saya mengatakan, bahwa tanpa pertumbuhan cukup dalam kemampuan kita untuk berhubungan dengan harmonis, kita tidak akan pernah mencapai potensi ini secara penuh. Evolusi bukanlah proses untuk melawan Tuhan. Ia adalah proses untuk menyatu dengannya.

SOURCE LINK:

http://www.collective-evolution.com/2013/02/08/where-is-evolution-taking-us/

Image: victorstuff.com

Comments

comments

Pages: Page 1, Page 2, Page 3